Analisis usaha sapi potong

20 10 2011

Manusia dalam memenuhi kebutuhannya memerlukan sejumlah barang atau jasa dan untuk mendapatkannya harus dengan sejumlah pengorbanan. Segala proses kegiatan untuk menciptakan atau menambah guna atas suatu benda, atau segala kegiatan yang ditujukan untuk memuaskan orang lain mendekati pertukaran tersebut dinamakan proses produksi. Tidak setiap orang dapat menyediakan kebutuhan, adapun inovasi dalam menyediakan kebutuhan tersebut diantaranya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya atau asal untung saja dan memperoleh pendapatan (Partadiredja, 1996).
Menurut Hartowo, dkk. (1985), besarnya biaya poduksi yang dikeluarkan oleh produsen (peternak) ditentukan oleh tiga hal yaitu kondisi fisik dari proses produksi, harga faktor produksi, dan efisisensi kerja produsen (peternak) dalam menjalankan usahanya. Bishop dan Taussaint (1979), menyatakan bahwa usaha peternakan merupakan proses produksi, sehingga rendahnya tingkat pendapatan disebabkan oleh penggunaan faktor-faktor produksi yang tidak efisien. Dalam usaha ternak sapi potong, banyaknya jumlah sapi yang dimiliki berpengaruh terhadap biaya produksi yang harus disediakan.

Teken dan Asnawi (1977), menyatakan bahwa semakin besar skla usaha maka jumlah biaya produksi total juga akan semakin besar, tetapi biaya setiap unit output menjadi semakin kecil. Secara umum dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan biaya produksi adalah kompensasi yang diterima oleh pemilik unsur-unsur produksi yang dipergunakan dalam proses produksi yang bersangkutan (Teken, 1981).
Biaya produksi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost).
• Biaya Tetap (fixed cost)
Menurut Teken dan Asnawi (1977) dan Mubyarto (1989), biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan untuk suatu usaha dimana besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya suatu produksi. Biaya ternak dalam usaha ternak sapi potong meliputi lahan yang diperhitungkan berdasarkan biaya sewa per tahun, sedangkan untuk kandang dan peralatan diperhitungkan berdasarkan nilai depresiasi. Depresiasi atau penyusutan adalah pengurangan nilai input karena umur dan pemakaian, merupakan biaya tetap dan dihitung sebagai pengeluaran (Soekartawi, dkk. 1984).
• Biaya Tidak Tetap (variable cost)
Horngren dan Foster (1988), menyatakan bahwa biaya tidak tetap adalah biaya yang totalnya berubah secara proporsional dengan perubahan total kegiatan atau volume yang berkaitan dengan biaya variabel tersebut. Selanjutnya Teken dan Asnawi (1977), menambakan bahwa besarnya biaya produksi sangat tergantung pada besarnya usaha yang dijalankan, tanpa memperhatikan apakah produsi berlangsung dengan kenaikan hasil bertambah atau berkurang. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin banyak produksi yang dihasikan semakin besar biaya yang digunakan. Biaya tidak tetap pada usaha ternak sapi potong meliputi pakan, tenaga kerja, alat-alat tidak tahan lama dan obat-obatan, yang dinilai dalam satuan rupiah.
Mosher (1989), menyatakan bahwa biaya pada usaha ternak rakyat dapat dibedakan menjadi biaya rill dan biaya tersamar. Biaya rill atau biaya tunai adalah biaya yang digunakan untuk membayar langsung faktor-faktor produksi dalam proses produksi. Biaya tersamar atau biaya tidak tunai adalah biaya yang tidak pernah dibayar langsung atau berupa kegiatan jerih payah pencurahan tenaga kerja dan pikiran beternak beserta keluarganya. Biaya tersamar dalam usaha ternak akan mengakibatkan pendapatan peternak terasa lebih besar daripada pendapatan sebenarnya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: