FASE PERTUMBUHAN PADA TERNAK

1 05 2011

FASE PERTUMBUHAN PADA TERNAK

Pertumbuhaan ternak dibagi menjadi 3 fase,  yaitu

  • pertumbuhan pre-natal (sebelum lahir),
  • pertumbuhan pre-weaning (masa menyusui)
  • pertumbuhan setelah disapih.

Pertumbuhan  Pre-natal, 

Pada  ternak prolifik/multiparous /peridi  pertumbuhan  prenatal dipengaruhi jumlah foetus dalam uterus. Jumlah  foetus banyak menyebabkan bahan pakan  induk tidak mencukupi dan   mengakibatkan anak yang dilahirkan kecil.

Pada ternak yang menghasilkan satu anak  (monoparous), bobot badan dan umur induk mempengaruhi pertumbuhan  pre-natal. Induk yang bobot badannya kecil akan melahirkan pedet yang lebih kecil dibandingkan induk  yang lebih tua dan lebih besar. Perbedaan ini disebabkan lingkungan dalam uterus, diantaranya  besarnya uterus.

Bobot lahir pedet juga bervariasi tergantung bapaknya, artinya faktor kebakaan memegang peranan pada pertumbuhan pre-natal.

Pertumbuhan Pre-Weaning,

Pertumbuhan pre-weaning, dipengaruhi kualitas  dan kuantitas susu induk. Bila jumlah anak terlalu banyak seperti pada babi, produksi susu tidak akan mencukupi kebutuhan tumbuh optimal semua anaknya.

Beberapa pedet tumbuh dengan kecepatan tinggi dan yang lainnya  tumbuh dengan kecepatan lebih rendah pada waktu yang  bervariasi selama  masa menyusu. Pertumbuhan selama menyusu  dapat  dihitung dengan rumus :

                                               

Kecepatan Pertumbuhan =   Berat saat disapih – Berat lahir /  Lama menyusu

            

Peternak  sapi pedaging umumnya membutuhkan data  bobot saat disapih, untuk memudahkan  penentuan  bobot badan  saat  disapih dikembangkan metode lain untuk menghitung bobot sapih 205  hari yaitu standar rata-rata umur disapih (saat  susu  induk diganti dengan pakan lain), yang rumusnya adalah sbb :

                 BS – BL

BSS =                              X 205 + Berat lahir.

           Lama menyusu

Keterangan :

BS  = Berat sapih.

BL  = Berat lahir

BSs = Berat sapih standar (205 hari)

Bila bobot lahir tidak tercatat, rata-rata bobot lahir ditentukan 70 lbs sebagai bahan perhitungan (hanya berlaku untuk sapi daging).

Betina  muda, betina awal dewasa dan betina kecil  pada bangsa yang sama akan memproduksi susu lebih sedikit dibandingkan betina besar dan betina sudah dewasa.

Produksi susu induk sangat berpengaruh terhadap  pertumbuhan pedet saat menyusu. Bila pakan induk kualitasnya baik, namun kuantitasnya kurang mencukupi maka induk akan memproduksi susu lebih sedikit dan akan menurunkan pertumbuhan pedet.

Bila pakan induk cukup dan baik, pertumbuhan pedet jantan lebih cepat dibanding pedet jantan kebiri, pedet  kebiri pertumbuhannya lebih cepat dari pedet betina selama periode menyusu.

Bila  pakan induk kurang baik, pertumbuhan pedet  jantan  pada saat  menyusu perbedaannya sangat kecil dibandingkan  pedet betina.

Pengaruh umur induk dan jenis kelamin pedet terhadap  pertumbuhan sangat nyata terlihat pada sapi dan domba. Pedet yang  berasal dari induk yang berumur 2 tahun, sekitar 75 lbs lebih rendah berat  sapihnya (pd umur 7 bulan) dibandingkan pedet  yang berasal dari induk yang lebih dewasa. Demikian juga pedet  jantan dari induk yang mendapat pakan baik akan lebih berat 40  lbs  dibandingkan pedet betina pada umur  sapih.

Post Weaning Growth,

Post-weaning growth adalah pertumbuhan  yang terjadi antara waktu disapih sampai saat  disembelih, pada berat 1000-1100 lbs.

Rumus menghitung kecepatan pasca-sapih, sbb :

                                                                             

Pertumbuhan Pasca-Sapih = Berat Akhir – Berat Sapih /     Waktu

                                      

Beberapa perbedaan kecepatan pertumbuhan diantara ternak dipengaruhi faktor genetik, sepanjang pedet tidak banyak variasi dalam pakannya selama  menyusu.

Beberapa faktor mungkin juga berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan selama menyusu ini.

Ternak yang kurang mendapat pakan baik selama menyusu yang disebabkan oleh karena induk kurang memproduksi susu, cenderung  akan dikompensasi pada saat lepas menyusu  sepanjang  pakan yang diberikan kualitas dan kuantitasnya baik. Kebalikannya  anak yang menyusu pada induk yang produksi  susunya melimpah, pada saat disapih dan setelah mendapat makanan lain pada  saat lepas sapih maka pertumbuhannya akan  kurang  memuaskan, tidak seperti pada saat anak tersebut masih menyusu.

Meskipun  anak yang pakannya kurang baik pada  saat  menyusu akan mengalami pertumbuhan kompensasi, namun tidak akan  mencapai berat yang normal seperti anak yang menerima pakan yang baik pada saat menyusu.

Ternak yang pertumbuhannya cepat, pada saat dilakukan  penggemukan akan membutuhkan makanan yang lebih sedikit untuk  setiap pertambahan  berat badan dibandingkan dengan anak yang  pertumbuhannya lambat. Mereka juga lebih banyak “lean” daripada  lemak di dalam tubuhnya.

Bila  ternak jantan dan betina normal mencapai pubertas  dan mulai  berkembang sexualitasnya, pertumbuhan mereka akan  menurun meskipun proses pertumbuhan masih tetap berlangsung sampai  beberapa  waktu sesudah mencapai pubertas.

Sebagai contoh :  Hereford mencapai  pubertas pada umur +- 15 bulan, pada umur  ini  beratnya 1200  lbs  atau lebih. Mereka akan tumbuh terus  sampai  umur  25 bulan dengan berat dapat mencapai 1800 sampai 2700 lbs.

Pertumbuhan menurun kontinyu dari pubertas sampai dewasa dicapai. Anak jantan akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan anak betina  setelah lepas sapih meskipun mereka mengkonsumsi  makanan  yang jumlahnya tidak jauh berbeda untuk setiap unit kenaikan  berat badan, kusekuensinya anak jantan dalam pertumbuhannya  membutuhkan makanan yang lebih sedikit dibandingkan dengan anak betina untuk kenaikan setiap unit berat badan.

Sebagai contoh  kecepatan pertumbuhan anak jantan 3,5-4 lbs/hari, membutuhkan 5-5,5 lbs makanan  untuk setiap kenaikan 1 lbs, anak betina yang  pertambahan berat badan hariannya 2,7-3 lbs membutuhkan makanan 6,5-8 lbs makanan untuk setiap kenaikan 1 lbs.

Maturitas/Dewasa  tubuh.  Setelah ternak mencapai  dewasa  tubuh, perubahan berat badan diakibatkan oleh penambahan atau pengurangan kandungan lemak tubuh. Penambahan berat badan pada saat  penggemukan bukan merupakan adanya pertumbuhan karena tidak ada  pembentukan  protein  tubuh yang terjadi. Pada  kenyataannya  ternak cenderung kehilangan protein tubuh dengan bertambahnya umur.  Kehilangan protein tubuh pada ternak merupakan fenomena pada “aging proses”.


Aksi

Information

2 responses

1 05 2011
absoluterevo

mantap infonya gan

7 02 2012
aslimah

sumbernya dari mana?sepertinya akan lebih baik jika dicantumkan tinjauan pustakanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: