laporan pkl

4 04 2010

BAB IV

PENGGUNAAN TEKNOLOGI BIO DEKOMPOSER AKTIF dalam PENGELOLAAN dan PEMANFAATAN LIMBAH TERNAK di PT VILLA DOMBA NIAGA INDONESIA

(Adi Rinaldi Firman 200110070044)

4.1 Abstrak
Praktek kerja lapangan dilaksanakan di PT Villa Domba Niaga Indonesia Desa Jatisari Kecamatan Cangkuang Banjaran-Soreang Kabupaten Bandung dari tanggal 17 Januari – 13 Februari 2010, Pengamatan dilakukan dengan metode wawancara dan praktek langsung bagaimana tata cara pengelolaan dan pemanfaatan limbah (feses, urine) dilakukan dengan penggunaan teknologi bio decomposer aktif (Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae), pengamatan sistem pengelolaan limbah dilakukan terhadap jalur pembuangan urine dan feses menuju penampungan dan banyaknya jumlah penampungan urine dan feses yang tersedia. Berdasarkan hasil pengamatan sistem pengelolaan limbah di perusahaan ini sudah cukup memenuhi standar sistem usaha peternakan yang ramah lingkungan dan penggunaan bio decomposer aktif dapat mempercepat proses degradasi unsur organik pada urine dan feses.
Kata kunci : Bio decomposer aktif, pengelolaan limbah

4.2 Latar Belakang
Limbah peternakan umumnya meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan, baik berupa limbah padat dan cairan, gas, ataupun sisa pakan (Soehadji, 1992). Ditambahkan oleh Soehadji (1992), limbah peternakan adalah semua buangan dari usaha peternakan yang bersifat padat, cair dan gas. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati atau isi perut dari pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair (air seni atau urine, air pencucian alat). Sedangkan limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas atau berada dalam fase gas.
Limbah ternak memiliki dua potensi yang bertolak belakang, yaitu potensi yang merugikan dan potensi yang menguntungkan bagi manusia. Potensi yang menguntungkan dari limbah ternak adalah dapat memberi manfaat bagi masyarakat, peternak maupun lingkungan jika dikelola dengan baik, yaitu menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah, mengurangi volume limbah dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya, mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesuburan tanah. Limbah ternak khususnya domba mengandung bahan organik yang dapat menyediakan zat hara bagi tanaman melalui proses penguraian (dekomposisi) dan dampak penggunaan pupuk hasil olahan limbah ternak dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Soil Condotion). Dengan pengelolaan dan pemanfaatan limbah ternak dapat tercapai suatu konsep peternakan yang ramah lingkungan.
Sebaliknya potensi yang merugikan dari limbah ternak adalah dapat menimbulkan pencemaran udara maupun air sehingga dapat terjadi masalah sosial antara peternak dengan masyarakat di sekitar areal peternakan, Dengan demikian diperlukannya suatu upaya pengelolaan limbah peternakan, baik limbah padat (feses) maupun limbah cair (urine) sehingga limbah-limbah tersebut tidak menimbulkan dampak seperti pencemaran udara maupun air. Dalam pengelolaan limbah kini dikenal sebuah teknologi bio decomposer aktif atau yang banyak dikenal sebagai bioactivator yang mampu mempercepat dekomposisi feses dan urine, Tetapi penggunaannya masih belum menyeluruh di peternakan skala rakyat maupun industri. Maka dari itu penulis tertarik mendalami sistem pengelolaan dan pemanfaatan limbah dengan memanfaatkan teknologi bio decomposer aktif (Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae).

4.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dilakukannya observasi mendalam ini adalah mengetahui cara pengelolaan dan pemanfaatan limbah di PT. Villa Domba Niaga Indonesia menggunakan teknologi bio decomposer aktif (Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae).
4.4 Metode Pengamatan
Metode pengamatan yang dilakukan di PT. Villa Domba Niaga Indonesia melalui:
1. Pengamatan langsung dan praktek langsung.
2. Mencatat data-data yang diperlukan mengenai jumlah drum penampung, perbandingan jumlah bio decomposer aktif (Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae) dengan jumlah bahan organik, dan lama masa inkubasi atau penyimpanan.
3. Wawancara langsung serta melakukan diskusi bersama komisaris, direktur utama, direktur operasional dan para pegawai.
4.5 Hasil dan Pembahasan
Jumlah rata-rata limbah (feses) ternak dari 3 kandang yang dihasilkan dalam 1 periode (1 minggu) di PT Villa Domba Niaga Indonesia adalah 56 karung atau sekitar 1680 kg (1 karung = 30 kg). Perhitungan jumlah feses di Villa Domba sangat sulit dikarenakan perpindahan ternak dilakukan secara cepat dari Villa Domba ke mitra-mitra baik mitra inti plasma, mitra strategis dan mitra unggulan.
Pengelolaan dan pemanfaatan limbah ternak di PT Villa Domba Niaga Indonesia sebenarnya terinspirasi dari sebuah masalah yang dihadapi sektor perkebunan yang dimiliki Villa Domba, yaitu kebutuhan pupuk organik yang jumlahnya mencapai 30 ton/tahun. Kandang-kandang Villa Domba menggunakan sistem kandang panggung dengan permukaan lantai bercelah, Sebagai lubang jatuhnya feses dan urine. Feses yang tertampung dikumpulkan seminggu sekali, dan setiap kandang memiliki jadwal pengumpulan kotoran yang berbeda. Pengolahan limbah ternaknya dilakukan apabila sektor perkebunannya membutuhkan pupuk organik cair maupun padat. Penggunaan pupuk organik cair lebih sering dipakai karena berfungsi sebagai pupuk dan juga pencegah penyakit busuk batang pada tanaman vannila yang diakibatkan bakteri Fusarium oxysporum, Pengunaan pupuk organik cair dilakukan ketika musim kemarau, karena pupuk cairnya dicampurkan dengan air untuk penyiraman, sedangkan penggunaan pupuk organik padat ketika musim penghujan.
4.5.1 Cara Pengelolaan dan Pemanfaatan Urine Domba
Pengelolaan urine per tiap kandang ditampung dalam sebuah kolam. Urine domba mengalir dari kandang panggung di atasnya. Setelah tempat penampungan urine domba terisi penuh maka pindahkan urine domba ke dalam drum berkapasitas 200 liter. Jumlah drum untuk pembuatan pupuk organik cair sebanyak 24 drum. Teknologi bio decomposer aktif (Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae) sebanyak 200 ml untuk kemudian diencerkan dengan air secukupnya. Dimana hasil pengencerannya untuk kemudian dimasukan ke dalam drum yang berisikan urine domba sebanyak 200 liter. Aduklah urine domba dalam drum hingga menyatu dengan cairan bio decomposer aktif yang sudah diencerkan. Setelah dirasakan tercampur maka tutuplah bagian atas drum dengan menggunakan plastik, Setelah hari ke 14 maka pupuk organik cair siap diberikan pada tanaman sebagai sumber nutrisi untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Pemanfaatan hasil pengolahan urine ternak domba dimanfaatkan untuk pupuk organik cair pada tanaman vanilla, kopi dan lainnya.
4.5.2 Cara Pengelolaan dan Pemanfaatan Feses Domba
Pengelolaan feses di villa domba dilakukan dengan cara pembuatan pupuk organik padat, Feses dikumpulkan dan dimasukan ke dalam karung 30 kg, Selanjutnya dibawa ke tempat penyimpanan limbah di tiap-tiap kavling sektor perkebunan yang dimiliki villa domba yang kemudian akan diolah menjadi pupuk organik padat dengan menggunakan teknologi bio dekomposer aktif (Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae). Pemberian larutan bio dekomposer aktif dengan dosis 250 ml bio dekomposer aktif dan diencerkan dengan 25 liter air bersih dapat digunakan pada 100 kg bahan organik (feses dan hijauan sisa pakan). Pembuatan kompos ini dilakukan pada komposter berongga sehingga dilakukan secara aerob. Dalam jangka 1 bulan semua feses telah siap pakai atau telah menjadi pupuk organik padat.
Pengaruh pemberian pupuk organik terhadap sifat fisik dan kimia tanah adalah (1) dapat mengurangi pemadatan tanah, (2) menaikan ketersediaan tanah karena bahan organik yang dapat mengikat air, (3) menaikan infiltrasi air sehingga tidah mudah tererosi, (4) menaikan nilai tukar kation tanah, (5) menyediakan unsur tanah yang dibutuhkan tanaman dan (6) mencegah pengikatan P dan mineralisasi N organik. Semakin banyak pupuk kandang yang diberikan pada tanah maka kandungan bahan organik di dalam tanah semakin meningkat, mengakibatkan volume tanah semakin besar, bobot isi tanah menjadi ringan. Pupuk kandang dapat berfungsi sebagai bahan organik yang berangsur-angsur membentuk humus.
4.5.3 Cara Pemanfaatan Bulu Domba
Perawatan domba dilakukan rutin di villa domba seperti halnya pencukuran bulu, dengan jumlah populasi yang banyak limbah sisa pencukuran (bulu) dirasakan perlu untuk dimanfaatkan, salah satunya dijadikan mulsa. Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk menjaga kelembapan tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tumbuh dengan baik.

4.5.4 Bio decomposer aktif
Bio-dekomposer aktif yang digunakan adalah formula larutan yang mengandungi bahan-bahan aktif Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae. Bio decomposer merupakan satu formula cair yang mengandungi dua jenis mikroorganisme yaitu Bacillus pantotkenticus (Bp) dan Trichoderma lactae (Te), masing-masing dengan kepadatan populasi ±106cfu/ml dan ±104cfu/ml. bio decomposer aktif merupakan formula 4-in-1 dimana dapat berfungsi sebagai bio-pestisida, bio-dekomposer bahan organik, bio-fertiliser dan pestisida nabati. Bio decomposer mempunyai beberapa peranan dalam meningkatkan kesehatan atau produksi tanaman seperti berikut:
a. Dapat mencegah serangan patogen tanah yang menyerang tanaman seperti: Fusarium oxysporum, Fusarium solani, Pythopthora, Pythium, Sclerotium rolfsii, Rigidoforud lignosis, Rhizoctonia solani (Bio-Pesticida).
b. Dekomposisi bahan organik seperti sisa pasar, sisa rumah tangga dan sisa kandang menjadi kompos (bio-dekomposer).
c. Basillus dan Trichoderma dapat meningkatkan kesehatan tanaman.
d. Menstimulasi pertumbuhan tanaman melalui penghasilan hormon akar, ketika proses pengomposan (Bio-fertiliser).
e. Kompos bio decomposer aktif ini bersifat pertisidal (Pestisida nabati).
f. Memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Cara Penggunaan
a. Bio decomposer aktif dapat dilarutkan dengan konsentrasi 10 ml bio triba dalam 1 liter air bersih (tanpa klorin) (1:100).
b. Untuk pemprosesan kompos adalah 250 ml bio decomposer aktif + 25 liter air bersih + 100 kg bahan organik.

4.6 Kesimpulan dan Saran
4.6.1 Kesimpulan :
a. Villa domba merupakan suatu perusahaan agribisnis yang menerapkan konsep peternakan produksi bersih dengan ditunjukan adanya sinergi peternakan dengan perkebunan vanilli.
b. Penggunaan bio decomposer aktif yang mengandung Trichoderma lactae dapat menekan penyakit busuk batang pada tanaman vanilla flaniviola yang diakibatkan Fusarium oxysporum.
c. Penggunaan pupuk organik padat (kompos) mencapai 30 ton/tahun.
d. Penggunaan pupuk organik cair maupun padat dapat mengembalikan kesuburan tanah yang sebelumnya tandus.
4.6.2 Saran :
Perlunya perbaikan dalam sistem perkandangan atau jalur urine dan feses menuju penampungan sehingga tidak terjadi penumpukan dan akhirnya limbah ternak tidak terolah.

4.7 DAFTAR PUSTAKA

Budi Listyawan.1992. Buku Panduan Teknik Pembuatan Kompos Dari Sampah,Jakarta.
Herman, R. 1992. Beternak Domba, Fakultas Peternakan IPB Bogor.
Salundik.2000, Pengelolaan dan Pengolahan Limbah Peternakan. Fakultas peternakan Institut Pertanian Bogor
Soehadji, 1992. Kebijaksanaan Pemerintah dalam Pengembangan Industri Peternakan dan Penanganan Limbah Petemakan. Makalah Seminar. Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta

4.8 LAMPIRAN

Diagram Alur Pengelolaan dan Pemanfaatan Urine dan Feses

Diagram alur pengelolaan urine

mengalir

Aduk dan tutup drum

Diagram alur pengelolaan feses

Dipindahkan

Aduk secara merata


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: