Aspek-aspek Studi Kelayakan

8 11 2011

Sampai awal Tahun 2006 masih belum ada kesepakatan tentang aspek apa saja yang harus dikaji  dalam  sebuah  studi  kelayakan  proyek.                                   Namun  dari  beberapa  literatur  terdapat beberapa  kesamaan.

Umumnya penelitian  akan  mengkaji  aspek  pasar  dan  pemasaran, teknis, keuangan, hukum, ekonomi negara. Tergantung pada besar kecilnya dana yang tertanam dalam investasi tersebut, maka terkadang juga ditambah studi tentang dampak sosial.  Beberapa  pengelompokan  aspek-aspek  tersebut  dari  tiga  literatur  yang  berbeda disajikan di bawah ini :

1.    Aspek  teknis,  institusional-organisasional-manajerial,  sosial,  komersil,  finansial,  dan ekonomi, tetapi cara pengelompokkan yang lain akan sangat berguna juga untuk didiskusikan (Ripman, 1964 dalam Gitinger, 1986).

2.    Aspek Pasar dan Pemasaran, Teknis, Keuangan, Manajerial, Lingkungan, dan Legalitas, (Suad Husnan dan Suwarsono, M., 2000),

3.    Aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya, pasar dan pemasaran, serta aspek produksi, (Moch. Ichsan, dkk., 2000).

Perbedaan pengelompokan aspek-aspek yang harus dikaji disebabkan oleh apakah sebuah proyek/ usaha dinilai layak/ tidak layaknya dengan analisis ekonomi atau analisis finansial. Pengelompokkan aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan dalam studi kelayakan sebuah proyek  dari  ketiga  literatur  tersebut,  pada  dasarnya  memiliki  kesamaan  tujuan  yaitu

memberikan penilaian kelayakan/ ketidaklayakan dari sebuah proyek/ usaha dari berbagai aspek. Karena itu perbedaan tersebut bukan suatu hal yang perlu diperdebatkan.

Dalam buku ini kita akan mendiskusikan lebih lanjut aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam studi kelayakan usaha/ bisnis peternakan yang difokuskan untuk analisis finansial, dengan mengadopsi beberapa aspek dari literatur tersebut beserta pengertian dan penjelasannya. Sebuah usaha peternakan setidaknya harus mempertimbangkan  enam aspek untuk setiap tahap (stage) dalam perencanaan proyek dan siklus pelaksanaannya.  Keenam aspek tersebut dalam buku ini akan dibahas secara terperinci dalam bab-bab selanjutnya. Keenam aspek tersebut adalah :

  •  Aspek Pasar dan Pemasaran
  •   Aspek Zooteknis dan Produksi
  • Aspek Ekonomi dan Keuangan
  •   Aspek Institusional-organisasional-manajerial
  • Aspek Lingkungan
  • Aspek Legalitas

Aspek Pasar dan Pemasaran

Aspek  pasar  dan  pemasaran  atau  oleh  Gitinger  diistilahkan  sebagai  aspek  komersil merupakan rencana pemasaran output yang dihasilkan oleh proyek dan rencana penyediaan input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan pelaksanaan proyek. Berdasarkan uraian tersebut, maka dalam aspek pasar dan pemasaran terdapat dua sudut pandang yaitu sudut pandang output dan sudut pandang input.

Dari sudut pandang output, analisis pasar untuk hasil proyek adalah sangat penting untuk meyakinkan      bahwa  terdapat  suatu  permintaan   efektif    pada   tingkat    harga    yang menguntungkan. Aspek pasar dan pemasaran dari sudut pandang output setidaknya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini :

1.    Kemana produk akan dijual ?

2.    Apakah pasar cukup luas untuk dapat menampung produksi baru tanpa mempengaruhi harga ?

3.    Jika harga menunjukkan indikasi akan terpengaruh, lalu berapa besarnya?

4.    Apakah proyek masih dapat terus berjalan pada tingkat harga yang baru?

5.    Berapa besar porsi (share) keseluruhan pasar yang akan dikuasai proyek?

6.    Apakah tersedia fasilitas-fasilitas yang cocok untuk menangani produk baru tersebut ?

7.    Mungkin  harus  dimasukkan  juga  persyaratan  untuk  pengolahan  dalam  proyek,  atau diperlukan suatu proyek pemasaran yang terpisah dari proyek pengolahan atau distribusi

(Austin, 1981).

8.    Apakah  produk yang  dihasilkan  proyek  dimaksudkan  untuk konsumsi domestik  atau ekspor ?

9.    Apakah proyek menghasilkan kualifikasi atau kualitas yang diminta oleh pasar?

10. Rencana  finansial  apa  yang  diperlukan  untuk  memasarkan  output,  dan  persyaratan khusus yang bagaimana yang diperlukan dalam proyek untuk membiaya pemasaran?

Dari  sudut pandang  input,  rencana-rencana  yang  cocok  harus  dibuat  untuk  meyakinkan tersedianya sarana produksi ternak (seperti: pakan ternak, obat-obatan, vitamin, mineral dan peralatan), ternak (bibit, bakalan, induk, DOC, dan DOD) yang akan diusahakan.   Kajian mengenai aspek pasar dan pemasaran dari sudut pandang input setidaknya harus mampu menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini :

1.    Apakah saluran pasar untuk input tersedia ? dan apakah mempunyai kapasitas yang cukup untuk menyediakan input tersebut tepat pada waktunya ?

2.    Bagaimana pembiayaan (financing) bagi penyedia (supplier) input?

3.    Haruskan saluran baru dibuat oleh proyek atau haruskah rencana-rencana khusus dibuat dalam menyediakan saluran pemasaran untuk input tersebut?

Aspek Teknis dan Zooteknis

Aspek teknis

Mempertimbangkan aspek teknis dalam menilai usaha dalam bidang peternakan sangatlah penting, karena aspek-aspek lain dari analisis usaha akan dapat berjalan apabila analisis

secara teknis telah dilakukan.  Kerangka kerja rencana usaha harus dibuat dengan jelas agar

aspek teknisnya dapat dianalisis secara tepat.

Aspek  teknis  dalam  studi  kelayakan  usaha  peternakan  setidaknya  mampu  menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini :

1.    Apakah studi dan pengujian pendahuluan pernah dilakukan?

2.    Apakah skala produksi yang dipilih sudah optimal?

3.    Apakah luas produksi ini akan meminimumkan biaya produksi rata-rata, ataukah akan memaksimumkan laba? Jadi, mempertimbangkan secara simultan faktor permintaan.

4.    Bagaimana fasilitasi untuk ekspansi nantinya? Tentang lokasi, luas tanah, pengaturan fasilitas produksi, dan sebagainya.

5.    Apakah proses produksi yang dipilih sudah tepat? Umumnya terdapat beberapa alternatif proses produksi untuk menghasilkan produk yang sama. Sebagai misal, semen bisa dibuat dengan proses basah ataupun proses kering, soda bisa dibuat dengan metode electrolysis atau metode kimia.

6.    Apakah  mesin-mesin  dan  perlengkapan  yang  dipilih   sudah  tepat?      Faktor  yang diperhatikan adalah tentang umur ekonomis dan fasilitas pelayanan kalau terjadi kerusakan mesin-mesin tersebut,

7.    Apakah perlengkapan-perlengkapan tambahan dan pekerjaan-                   pekerjan teknis tambahan telah dilakukan? Faktor-faktor seperti material handling, suplay bahan pembantu, kontrol kualitas,dan sebagainya perlu diperhatikan pula.

 

8.    Apakah telah disiapkan tentang kemungkinan penanganan terhadap limbah produksi?

9.    Apakah tata letak yang diusulkan dari fasilitas fasilitas produksi cukup baik?

10. Bagaimana dengan pemilihan lokasi dan ”site”produksi?

11. Apakah skedul kerja telah dibuat dengan cukup realitis?

12. Apakah teknologi yang akan dipergunakan bisa diterima dari pandangan sosial?

Dalam pemilihan teknologi yang akan dipergunakan sebaiknya tidak dipergunakan teknologi yang sudah usang, atau teknologi yang masih dicoba-coba. Pertama akan mengakibatkan perusahaan nantinya sulit untuk bersaing, sedangkan yang kedua bisa mengakibatkan kesulitan dalam perawatan fasilitas.

Aspek Zooteknis

Perencana usaha dalam bidang peternakan dituntut untuk mengetahui dan memahami aspek zooteknis agar  mampu  mengkaji rencana usaha dari aspek tersebut,  sehingga perencana usaha  dapat  memberikan  penilaian  layak  tidaknya  sebuah  rencana usaha  dalam  bidang peternakan dari aspek zooteknis.

Jenis ternak yang dapat diusahakan banyak ragamnya dari mulai ternak ruminansia (seperti :  sapi,  kerbau, domba dan kambing),  ternak non ruminansia  (unggas, kuda dan  kelinci). Masing-masing  jenis ternak  tersebut membutuhkan  kesesuaian  lingkungan  yang  berbeda untuk tumbuh, reproduksi dan berproduksi secara optimum. Dengan demikian dalam merencanakan usaha dibidang peternakan harus memperhatikan lokasi/ daerah yang sesuai dengan tuntutan fisiologis ternak yang akan diusahakan. Sebagai contoh ternak sapi perah akan berproduksi optimum pada suhu yang relatif dingin, dimana daerah yang relatif dingin berada pada daerah daerah pegunungan seperti di Lembang, Pangalengan, Ciwidey, Arjasari, Cipanas, dan daerah-daerah pegunungan lainnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka aspek zooteknis menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam studi kelayakan usaha/ bisnis peternakan.

Masing-masing   jenis   ternak   memiliki   parameter   produksi   dan   reproduksi   tersendiri. Parameter produksi dan reproduksi sapi perah akan berbeda dengan parameter produksi ternak unggas, sapi potong, kerbau, domba, kambing, dan begitu pula sebaliknya. Karena itu pengetahuan tentang parameter-parameter tersebut mutlak diketahui dan di pahami oleh seorang perencana usaha dalam bidang peternakan. Parameter produksi yang perlu diketahui untuk ternak yang tergolong ternak ruminansia adalah produksi susu (liter/ekor/hari) khusus untuk sapi perah, bobot sapih (kg), umur sapih (minggu), umur siap kawin (bulan), bobot badan siap kawin (kg), dan pertambahan bobot badan (ADG) khusus untuk ternak potong.

Kebutuhan pakan pun untuk setiap jenis ternak yang diusahakan akan berbeda dalam hal jenis pakan, kandungan nutrisi, dan jumlah yang dibutuhkannya.  Kebutuhan pakan dalam satu jenis ternak yang sama sangat tergantung dari umur ternak, contohnya seperti untuk ayam pedaging pada umur di bawah 14 hari (strater) membutuhkan kandungan protein yang lebih besar dibandingkan  pada umur fase grower dan finisher.

Kajian aspek zooteknis dalam studi kelayakan harus mampu menjawab pertanyaan- pertanyaan di bawah ini :

1.    Jenis ternak apa yang akan diusahakan ?

2.    Berapa skala usahanya ?

3.    Lingkungan fisik dan lingkungan non fisik bagaimanakah yang cocok dengan jenis ternak yang akan diusahakan ?

4.    Jenis pakan apa saja yang dibutuhkan, kandungan nutrisi dan jumlah pemberiannya berapa ?

5.    Bagaimana daya dukung lahan terhadap penyediaan pakan hijauan ?

6.    Bagaimanakah parameter produksi dari jenis ternak yang akan diusahakan ?

7.    Bagaimanakah parameter reproduksi dari jenis ternak yang akan diusahakan?

8.    Penyakit apa saja yang membahayakan jenis ternak yang akan diusahakan dan bagai mana cara mencegah dan mengobatinya ?

Aspek Keuangan

Tujuan  umum  pendirian  sebuah  usaha  adalah  untuk  menghasilkan  benefit  dan  profit. Benefit  dan  profit  tersebut  merupakan  imbalan  atas  sejumlah  dana  yang  diinvestasikan dalam sebuah usaha. Dengan demikian, sebuah usaha akan membutuhkan sejumlah uang sebagai modal yang akan digunakan pada tahap pra operasi, tahap pembangunan dan tahap operasional.

Dana  investasi  pada  tahap  pra  operasi  biasanya  dibutuhkan  untuk  pengurusan  izin-izin usaha, pematangan lahan (land improvement), dan lain-lain.  Pada tahap pembangunan dana investasi diperlukan untuk membiayai bangunan fisik seperti kandang, gudang, jalan, dan fasilitas-fasilitas   lainnya   yang   diperlukan.    Pada   tahap   operasional   sebuah   usaha membutuhkan sejumlah uang untuk membiayai modal kerja seperti untuk membeli pakan, peralatan dan perlengkapan, vitamin, obat-obatan, membayar gaji karyawan/ upah pekerja, bunga modal, dan lain-lain.

Benefit dan profit usaha berasal dari selisih nilai jual produk (susu, telur, ternak, daging, dll) dengan seluruh biaya yang dikeluarkan pada periode waktu tertentu. Tingkat benefit dan profit yang dihasilkan dari usaha sangat tergantung dari kemampuan usaha dalam mengefisienkan biaya usaha. Berdasarkan hal itu, maka pembiayaan usaha harus direncanakan dengan baik dan cermat dalam bentuk rencana anggaran biaya (RAB).

Aspek keuangan dalam studi kelayakan biasanya mempelajari kebutuhan dana untuk aktiva tetap, aktiva lancar, modal kerja, sumber pendanaan, dan sumber penerimaan, analisis biaya dan manfaat, serta arus kas. Biasanya aspek keuangan dalam studi kelayakan didasarkan atas angka proyeksi seperti proyeksi kebutuhan investasi, proyeksi biaya dan manfaat/ keuntungan,  dan  proyeksi  arus  kas.  Semua  proyeksi  tersebut  pada  analisi  lebih  lanjut menjadi dasar bagi penilaian kelayakan sebuah usaha menurut kriteria investasi (NPV, IRR, dan B/C,) dan menilai kemampuan usaha dalam membayar seluruh biaya yang harus ditanggung.  Disamping  itu,  salah  satu  dari  proyeksi  tersebut  dapat  digunakan  untuk mengukur rentang waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan seluruh modal/ investasi yang tanamkan, atau yang lebih dikenal dengan pay back periode (PBP).

Sebagai gambaran (tetapi bukan sesuatu yang absolut), dalam mengkaji aspek keuangan dalam studi kelayakan stidaknya ada lima faktor yang harus dikaji.  Kelima faktor tersebut adalah :

1.    Dana yang diperlukan untuk investasi, baik untuk aktiva tetap maupun modal kerja.

2.    Sumber-sumber  pembelanjaan  yang  akan  dipergunakan.  Seberapa  banyak dana yang berupa modal sendiri  dan  berapa banyak yang  berupa pinjaman  jangka pendek,  dan berapa yang jangka panjang.

3.    Taksiran penghasilan, biaya, dan rugi/laba pada berbagai tingkat operasi. Termasuk di sini estimasi tentang break event proyek tersebut.

4.    Manfaat dan biaya dalam artian finansial, seperti ”rate of retrun on investment”. “net present  value”.  “internal  rate  of  retrun”.  “profitability  index”,dan  “payback  period”. Estimasi terhadap resiko proyek, resiko dalam artian total, atau kalau mungkin yang hanya  sistematis.  Di  sini  di  samping  perlu  ditaksir  rugi/laba  proyek  tersebut,  juga taksiran aliran kas diperlukan untuk menghitung profitabilitas finansial proyek tersebut.

5.    Proyeksi keuangan. Pembuatan neraca yang diproyeksikan dan       proyeksi sumber dan penggunaan dana.

Aspek Institusional-Organisasional-Manajerial

Aspek ini mempelajari badan/ instansi sebagai pelaksana dan bentuk organisasi, serta sistem pengelolaan untuk usaha yang direncanakan. Dalam studi kelayakan badan/ institusi, bentuk organisasi dan sistem pengelolaan dari usaha yang direncanakan perlu mendapat pertimbangan, karena ketiganya merupakan satu kesatuan yang akan menentukan tingkat keberhasilan pelaksanaan dari usaha yang direncanakan.

Kajian  terhadap  aspek  ini  setidaknya  mampu  mengungkapkan  dan  memberi  jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di bawah ini :

1.    Badan/ institusi apa yang akan mampu melaksanakan usaha yang direncanakan

2.    Bagaimana bentuk organisasi yang cocok untuk usaha yang direncanakan

3.    Bagaimana sistem manajemen dalam masa pembangunan/ perkembangan proyek. Siapa pelaksana    proyek tersebut? Bagaimana jadwal penyelesaian proyek tersebut? Siapa yang melakukan studi masing-masing aspek: pemasaran, teknis, dan lain sebagainya?

4.    Bagaimana  sistem  manajemen  dalam  operasi.  Bentuk  organisasi/badan  usaha  yang dipilih. Struktur organisasi, deskripsi jabatan, dan spesifikasi jabatan. Anggota direksi dan tenaga-tenaga kunci. Jumlah tenaga kerja yang akan digunakan.

 Aspek Lingkungan

Keberadaan usaha peternakan yang baru akan memberi pengaruh terhadap lingkungan baik positif maupun negatif.   Pengaruh positif biasanya terjadi pada lingkungan sosial-ekonomi karena adanya penyerapan tenaga kerja lokal, pemanfaatan kotoran ternak menjadi kompos atau dimanfaatkan langsung akan meningkatkan kesuburan tanah. Pengaruh negatif timbul akibat  adanya  limbah  yang  dihasilkan  oleh  usaha  tersebut.  Limbah  yang  dihasilkan umumnya menjadi sumber polutan bagi air dan udara di lingkungan sekitarnya.

Dalam studi kelayakan kajian terhadap aspek lingkungan tidak mendetil, baru sampai pada tahap pendugaan dampak usaha terhadap lingkungan.   Kajian yang lebih mendetil mengenai lingkungan dilakukan pada kajian lain yaitu upaya pemantauan lingkungan (UPL) dan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) yang diperlukan untuk menentukan lokasi usaha sebelum feasibility study dan kegiatan usaha setelah feasibility study, serta analisis mengenai dampak lingkungan  (AMDAL).  Kedua  kajian  tersebut  didasarkan  atas  hasil   studi  kelayakan (feasibility study) selesai. Jadi UPL-UKL dan AMDAL dilakukan setelah studi kelayakan usahanya ada/ selesai.

Variabel-variabel  lingkungan  akan  dibahas pada bab berikutnya dalam buku  ini, namun setidaknya   kajian   terhadap   aspek   lingkungan   harus   mampu   mengungkan   beberapa pertanyaan berikut ini:

1.    Bagaimana sikap dan persepsi masyarakat setempat (tokoh, pemuka agama, dan aparat pemerintah) terhadap keberadaan usaha yang direncanakan ?

2.    Berapa orang tenaga kerja setempat yang akan direkrut?

3.    Berapa besar limbah cair dan limbah padat yang akan dihasilkan oleh usaha peternakan yang direncanakan?

4.    Sampai radius berapa meter bau yang ditimbulkan limbah tersebut.

5.    Seberapa jauh limbah tersebut mencemari air ?

6.    Bagaimana   instalasi   pengolahan   limbah   (IPAL)   yang   sesuai   dan   berapa   besar kapasitasnya?

7.    Apakah limbah yang telah diproses akan dimanfaatkan dan atau dibuang ke mana limbah yang telah diproses tersebut ?

8.    Apakah limbah padat akan dibuat kompos ? dan apakah ada alternatif teknologi untuk mengolah limbah tersebut ?

Isu  lingkungan  yang  semakin  ramai  dan  fenomena  terusik/  terdesaknya  beberapa  lokasi usaha peternakan oleh pemukiman menyebabkan kesinambungan (sustainability) usaha terancam. Dengan demikian aspek lingkungan merupakan faktor yang perlu mendapat perhatian dalam sebuah studi kelayakan usaha peternakan.

Aspek Legalitas

Legalitas sebuah usaha yang direncanakan terkait dengan kebijakan pemerintah dan aspek hukum.  Usaha yang direncanakan tidak boleh bertentangan dengan kebijakan dan hukum yang berlaku.             Tanpa dukungan legalitas, usaha yang direncanakan dikhawatirkan akan mendapat   hambatan   pada   tahap   implementasi   rencana   dan   keberlanjutan   usahanya terancam berhenti.  Selain itu, legalitas usaha yang direncanakan sangat diperlukan apabila akan berhubungan dengan pihak lain seperti bank, investor, pemerintah, dan pihak-pihak lainnya.                 Dengan  demikian  aspek  legalitas  dalam  studi  kelayakan  harus  menjadi  bahan pertimbangan. Beberapa hal yang harus dikaji dari aspek legalitas ini adalah :

1.    Kesesuaian lokasi/ tempat usaha dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) propinsi atau kabupaten/ kota ?

2.    Kesesuaian lokasi/ tempat usaha dengan Rencana Deil Tata Ruang (RDTR)

3.    Bentuk badan usaha apa yang akan dipergunakan.

4.    Jaminan-jaminan apa saja yang bisa disediakan kalau akan menggunakan sumber dana yang berupa pinjaman.

5.    Berbagai akta, sertifikat, izin yang diperlukan, dan sebagainya.

Aspek Sosial dan Ekonomi

Aspek ekonomi dan sosial biasanya dikaji dalam studi kelayakan yang memfokuskan pada analisis  ekonomi.                                  Umumnya  digunakan  dalam  proyek-proyek  yang  direncanakan  oleh pemerintah atau proyek-proyek besar. Beberapa hal yang harus dikaji dalam aspek sosial ekonomi ini adalah :

1.    Pengaruh proyek tersebut terhadap peningkatan penghasilan negara.

2.    Pegaruh proyek  tersebut terhadap devisa yang bisa dihemat dan yang bisa diperoleh.

3.    Penambahan kesempatan kerja

4.    Pemerataan kesempatan kerja.

5.    Bagaimana pengaruh proyek tersebut terhadap industri lain?

Sebagai supply bahan bagi industri lain, dan pasar bagi hasil industri lain.

6.  Aspek yang bersifat sosial: menjadi semakin ramainya daerah tersebut, lalu lintas yang semakin lancar, adanya penerangan listrik, dan lain sebagainya

Aspek sosial ini merupakan manfaat dan pengorbanan sosial yang mungkin dialami oleh masyarakat, tetapi sulit dikuantifikasikan yang disepakati secara bersama. Tetapi manfaat dan pengorbanan tersebut dirasakan ada.

Sebenarnya kesemua aspek tersebut perlu dipelajari, tetapi tergantung pada besar kecilnya dana yang tertanam pada investasi/proyek tersebut, maka banyak sedikitnya aspek yang perlu dipelajari dan kedalaman studi tersebut mungkin berbeda. Untuk proyek-proyek besar, semua aspek tersebut perlu dipelajari secara mendalam, tetapi untuk proyek-proyek yang kecil mungkin tidak semua aspek perlu diteliti. Umumnya aspek sosial ekonomi tidak begitu diperhatikan bagi proyek-proyek kecil.

About these ads

Aksi

Information

One response

1 05 2013
Kang Bull

Terimakasih ya, penjelasan tentag aspek studi kelayakannya sangat membantu saya yang mengerjakan tugas. Ditambah dengan kelengkapan materinya, terimakasih.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.987 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: